Peringati Hari Jadi ke-410 Kota Sanggau, Keraton Surya Negara Gelar Ritual Adat Bebuang dan Tolak Ajong
- account_circle Hms/Tim
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- print Cetak

Keraton Surya Negara Sanggau menggelar ritual adat Bebuang, Tolak Ajong, dan Ruah Rasul dalam rangka Hari Jadi ke-410 Kota Sanggau untuk memohon keselamatan warga. (Foto: Hms)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Suasana khidmat menyelimuti kawasan Keraton Surya Negara Sanggau, Jalan Mangga, Kelurahan Tanjung Sekayam, pada Jumat sore, 10 April 2026.
Masyarakat bersama tokoh adat dan pemerintah daerah berkumpul untuk melaksanakan ritual adat Bebuang atau Tolak Ajong, Ruah Rasul, serta Doa Tolak Bala. Agenda ini merupakan bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-410 Kota Sanggau.
Kegiatan ini mendapatkan pengamanan ketat dari jajaran Polres Sanggau guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tertib, mengingat tingginya antusiasme warga yang memadati area keraton.
Ritual dipimpin langsung oleh Raja Keraton Sanggau, Pangeran Ratu Surya Negara, Gusti Arman. Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau Aswin Khatib, Kabag Ops Polres Sanggau AKP PSC. Kusuma Wibawa, serta sejumlah pemuka adat lainnya.
Raja Gusti Arman menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang mencerminkan keseimbangan antara aspek spiritual dan sosial masyarakat Sanggau.
“Ritual Bebuang atau Tolak Ajong memiliki makna simbolis sebagai upaya membuang segala bentuk kesialan dan marabahaya dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan sosial,” jelas Gusti Arman pada Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Ruah Rasul adalah bentuk syukur kepada Tuhan, sementara Doa Tolak Bala menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan serta keberkahan bagi seluruh warga Sanggau.
Senada dengan hal tersebut, Sekda Sanggau Aswin Khatib menegaskan bahwa pelestarian nilai-nilai kearifan lokal ini merupakan tanggung jawab bersama agar tidak tergerus zaman.
“Bebuang atau Tolak Ajong bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan warisan budaya leluhur yang sarat nilai spiritual, sosial, dan kearifan lokal yang harus terus dijaga,” tegas Aswin Khatib.
Aswin berharap momentum hari jadi kota tahun ini dapat memperkuat persatuan masyarakat serta mendorong semangat pembangunan agar Sanggau semakin maju dan berdaya saing.
Rangkaian ritual adat ini sebenarnya telah dimulai sejak Kamis malam, 9 April 2026, dengan prosesi awal yang dilakukan oleh pihak internal keraton sebelum puncaknya dilaksanakan pada hari Jumat.
Acara diakhiri dengan kegiatan ramah tamah dan makan bersama. Tradisi makan berami ini menjadi simbol kebersamaan yang mempererat hubungan antara pihak kesultanan, pemerintah, dan masyarakat umum.
Sebagai agenda rutin tahunan, ritual Bebuang dan Tolak Ajong tetap menjadi jati diri daerah yang menyatukan keberagaman dalam bingkai budaya di wilayah Kapuas Raya.
- Penulis: Hms/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar