Ria Norsan Jelaskan Subsidi Haji 2026, Biaya Penerbangan ke Batang Dibebankan ke Jamaah
- account_circle Adp/Tim
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Pemprov Kalbar memberikan penjelasan terkait biaya tambahan haji 2026. Sebagian besar biaya disubsidi APBD, namun transportasi udara tetap ditanggung jemaah. (FOTO: Ria Norsan di acara MABM./Adp)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memberikan penjelasan resmi terkait komponen biaya tambahan atau biaya lokal dalam penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1447 H/2026 M.
Penjelasan ini merupakan bentuk keterbukaan informasi kepada masyarakat, khususnya bagi 1.861 calon jemaah haji asal Kalimantan Barat yang akan bertolak ke tanah suci tahun ini.
Dalam penyelenggaraan ibadah haji, terdapat komponen biaya tambahan yang berkaitan dengan proses pemberangkatan dari daerah asal menuju embarkasi, serta pemulangan dari debarkasi ke daerah asal. Komponen ini meliputi transportasi darat, udara, akomodasi, dan konsumsi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah mengalokasikan dukungan anggaran dari APBD sebesar Rp1.090.850.000. Dana tersebut diperuntukkan bagi transportasi darat jemaah di Pontianak dan Batam (PP), akomodasi asrama haji di Batam, serta konsumsi jemaah.
Namun, untuk biaya transportasi udara rute Pontianak–Batam pulang-pergi sebesar Rp7.185.000 per jemaah, saat ini masih menjadi tanggungan masing-masing jemaah haji.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan bahwa kebijakan pembebanan sebagian biaya transportasi udara tersebut telah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
“Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, biaya transportasi jemaah haji dari daerah asal ke embarkasi dapat dibebankan pada APBD. Namun dalam hal APBD tidak mencukupi, maka biaya tersebut dibebankan kepada jemaah haji,” tegas Ria Norsan di ruang kerjanya pada Selasa, 21 April 2026.
Penetapan maskapai penyedia jasa dilakukan melalui mekanisme pengadaan terbuka. Dari proses tersebut, Lion Air dipilih sebagai pemenang dengan penawaran terendah sebesar Rp13,3 miliar, dibandingkan Sriwijaya Air yang mengajukan Rp14,5 miliar.
Gubernur menjelaskan bahwa tingginya biaya transportasi udara tahun ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang mencapai sekitar 70 persen. Harga avtur melonjak dari kisaran Rp13.600 per liter menjadi sekitar Rp23.000 hingga Rp25.000 per liter.
Selain itu, jumlah jemaah haji Kalbar tahun ini yang hanya 1.861 orang—lebih sedikit dari tahun lalu yang mencapai 2.519 orang—turut memengaruhi besaran biaya per jemaah karena beban operasional pesawat harus dibagi ke jumlah orang yang lebih sedikit.
Meskipun demikian, sebagian besar Pemerintah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat juga telah berkomitmen memberikan bantuan tambahan dengan besaran bervariasi untuk meringankan beban para jemaah di daerah masing-masing.
Pemprov Kalimantan Barat memastikan akan terus memberikan dukungan optimal sesuai kemampuan keuangan daerah guna memastikan seluruh proses ibadah haji berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi seluruh tamu Allah asal Bumi Khatulistiwa.
- Penulis: Adp/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar