Terganggu Riuhnya Bunyi Mesin PLTD dan SUTET, Warga Siantan Hilir Berharap Direlokasi Pemkot dan PLN
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- print Cetak

Warga Siantan Hilir Mohammad Salih mengeluhkan gangguan kesehatan akibat bisingnya mesin PLTD dan radiasi SUTET. Ia berharap relokasi dari Pemkot dan PLN. (Foto: Aal)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Rumah milik Mohammad Salih (56 tahun), warga RT 001 RW 003, Kelurahan Siantan Hilir, Gang Teluk Sahang 2, Jalan Budi Utomo, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, berdiri tepat bersebelahan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Siantan milik PLN.
Selain menempel langsung dengan area PLTD, hunian milik Salih tersebut juga berada sangat dekat dengan tower saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 001.
Kondisi tersebut membuat Salih mengeluhkan suara riuh mesin PLTD yang terus beroperasi serta mengkhawatirkan dampak radiasi terhadap kesehatan keluarganya.
Di usianya saat ini, Salih mengaku kerap mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti penglihatan kurang jelas, nyeri badan, hingga perasaan ngambang dan sempoyongan.
Kondisi fisik yang terus menurun membuat dirinya tidak mampu lagi bekerja sebagai sopir truk sebagaimana profesi yang digelutinya dahulu.
Salih sangat berharap adanya perhatian dan penanganan konkret dari pihak PLN maupun Pemerintah Kota Pontianak untuk melakukan relokasi tempat tinggalnya ke lokasi yang lebih aman.
Saat ditemui pada Senin (19/10/2026) siang, Salih mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak sanggup menahan kebisingan mesin pembangkit tersebut.
“Saya tak mampu rasanya kena bunyi-bunyi mesin ini karena rumah saya ini paling dekat di PLTD. Ini saya dirikan rumah ini tahun 1992 sedangkan mesin ini dari tahun 1995. Jadi istilahnya duluan saya, tapi waktu saya berdiri dari tahun 1995 itu tidak ada koordinasi dengan saya dari pihak PLN ini. Jadi saya pun yang bodoh ini tidak tahu apa-apa lah,” kata Salih.
Ia mengaku sudah berupaya mengadukan nasibnya kepada pimpinan daerah setempat, namun hingga kini belum membuahkan hasil.
“Kemarin lapor sama Pak Wali saya sudah 4 bulan tak ada tanggapan sampai sekarang. Ya kan bikin surat apa segala macam, tak ada berita itu ini, tak ada tanggapan,” tuturnya.
Salih menegaskan bahwa posisi rumahnya memang sangat rentan karena terapit dua fasilitas milik PLN sekaligus.
“Rumah saya satu saja saya minta direlokasi karena saya paling dekat dengan pagar PLTD ini. Kebetulan depan saya ini ada tower SUTET lagi, jadi saya kena dua-duanya, dari PLTD kena, dari SUTET kena,” jelasnya.
Masalah kesehatan yang dialaminya membuat Salih harus bergantung pada obat-obatan medis dalam jangka waktu yang panjang.
“Kalau saya makan obat ini bisa bertahun-tahun. Kalau nyeri waktu dimakan hilang, tapi timbul lagi. Jadi ujung-ujung bertahun-tahun saya makan mengkonsumsi obat ini terus. Ujung-ujung kan anak saya tegurkan jangan pakai obat ini terus lah Pak, takutnya ke ginjal,” bebernya.
Suara gemuruh mesin PLTD yang bergetar setiap hari diakui sangat mengganggu waktu istirahatnya di malam hari.
“Kena bunyi PLTD kena bunyi mesin ini, tak mampu lah saya. Bergetar rasanya kalau saya tidur setiap malam. Pindah sebelah sana, pindah kamar sini, pindah kamar ini. Jadi kadang-kadang saya mau minum obat dulu, minum obat tenang. Paling-paling setengah jam udah timbul hilang obatnya, sakit lagi,” akunya.
Kondisi fisik yang tidak lagi prima membuat pria berusia 56 tahun ini terpaksa menganggur dan tak bisa lagi mencari nafkah.
“Saya pun nggak bisa ngangkat apa-apa sekarang. Dulu saya kan driver, seorang supir. Sekarang nggak bisa lagi nambak mobil. Jadi saya tak kerja, udah satu tahun lebih dari rumah nggak kerja,” tambahnya.
Selain memikirkan kondisi dirinya sendiri, Salih menyimpan kekhawatiran mendalam terhadap dampak jangka panjang bagi anak-anaknya.
“Oke lah saya udah tua, sekarang umur saya udah 56. Yang macam anak-anak saya kan umur 20-an, masih sehat, masih bisa keluar. Cuman nanti untuk kedepannya 10 tahun kedepan mungkin lebih-lebih daripada saya lagi, takutnya seperti itu,” paparnya.
Oleh sebab itu, ia memohon dengan sangat agar Pemerintah Kota Pontianak dan pihak PLN dapat merealisasikan permohonan relokasi rumahnya.
“Kalau bisa tolonglah dari pihak Pak Wali, Pemkot apa ini, tolong direalisasikan. Saya nggak minta banyak, minta rumah saya aja direlokasi, pindah ke tempat lain yang kira-kira tidurnya enak. Kalau macam ini, pun rumah saya agak besar gini pun tidur nggak enak, percuma. Kalau tahu seperti ini kan dari dulu saya nggak bangun rumah, biarkan,” ucapnya.
Ia mengaku tidak keberatan jika harus dipindahkan ke area pemukiman yang masih sepi asalkan terbebas dari kebisingan dan radiasi.
“Makanya kalau bisa saya diminta direlokasikankesana. Nanti saya mau cari ke tempat mana yang kira-kira nggak ada dampak-dampak bunyi mesin, yang enaknya kita istirahat. Rasanya kalau kita udah tua, makin tua kan makin enak kalau istirahatnya lebih nyaman. Maka hutan-hutan pun situ nggak masalah, yang penting nggak ada kedengaran bunyi mesin sama SUTET,” pungkas Salih.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar