Wisuda 746 Lulusan UPB Pontianak, Rektor: Jadilah Sarjana yang Pulang Membangun Kalbar
- account_circle Sinar Sintang
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- print Cetak

Sebanyak 746 mahasiswa UPB Pontianak diwisuda. Rektor berpesan agar lulusan ikut membangun Kalbar dengan menjaga lingkungan dan kearifan lokal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Sebanyak 746 mahasiswa Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak resmi menyandang gelar akademik dalam Wisuda ke-XXXVIII yang digelar Kamis (1/10/2026).
Namun, seremoni kelulusan tersebut tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa studi. Para lulusan juga mendapat pesan untuk mengambil peran dalam pembangunan Kalimantan Barat, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Dari 746 wisudawan dan wisudawati, sebanyak 686 orang merupakan lulusan program sarjana akademik. Sementara 60 lainnya berasal dari program pascasarjana yang terdiri dari Magister Hukum, Magister Manajemen, serta Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Rektor UPB Pontianak, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM., mengatakan gelar akademik yang diperoleh para lulusan bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Menurut dia, gelar tersebut justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jadilah sarjana yang berakar, ilmu setinggi langit tapi jangan lupa akar. Akar kita adalah Pancasila, akar kita adalah kearifan lokal Kalimantan Barat,” ujar Purwanto dalam sambutannya.
Wisuda ke-XXXVIII UPB mengangkat tema “Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologis di Kalimantan Barat.” Purwanto mengatakan tema tersebut berangkat dari kondisi Kalimantan Barat yang memiliki kekayaan ekologis sekaligus menghadapi berbagai persoalan lingkungan.
“Kalimantan Barat di satu sisi adalah paru-paru dunia, memiliki Sungai Kapuas terpanjang di Indonesia, hamparan gambut yang menyimpan karbon sangat besar, hutan, dan garis mangrove yang menjaga pesisir wilayah,” katanya.
Di sisi lain, kata dia, Kalimantan Barat menghadapi tantangan berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut, abrasi pesisir, penurunan kualitas air sungai, serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Karena itu, Purwanto menilai pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekologis. “Ini bukan sekadar jargon, ini adalah panggilan moral bagi kita civitas akademika Universitas Panca Bhakti,” ucapnya.
Ia menegaskan UPB sebagai perguruan tinggi yang tumbuh dari masyarakat Kalimantan Barat harus mengambil peran dalam pembangunan daerah. “Kita tidak boleh menjadi penonton pembangunan yang merusak ekologi, harus menjadi pelopor ekonomi hijau, ekonomi yang tumbuh tapi hutan tetap lestari, sungai tetap jernih dan masyarakat adat tetap berdaulat di tanahnya,” katanya.
Purwanto juga menyampaikan bahwa UPB mendapat mandat dari Bappenas sebagai sentra SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) untuk perguruan tinggi di Kalimantan Barat. Mandat tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola.
“Ini kita harapkan ke depan jadi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi kita berbasis kepada penguatan-penguatan pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, pembangunan lingkungan dan tata kelola yang lebih mengedepankan kepada basis kesejahteraan dan keberlanjutan dari ekologi kita,” ujarnya.
Selain isu pembangunan berkelanjutan, Purwanto mengatakan UPB juga mendapat perhatian dari sejumlah perwira tinggi Mabes TNI terkait upaya mitigasi kebencanaan di Kalimantan Barat.
Pertemuan tersebut, kata dia, turut menginisiasi lahirnya lembaga kajian strategis mitigasi kebencanaan di Kalimantan Barat. UPB menjadi salah satu perguruan tinggi yang menjadi pionir dalam inisiatif tersebut.
Kepada para lulusan, Purwanto kembali menitipkan pesan agar ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah tidak membuat mereka tercerabut dari lingkungan sosial dan daerah asal. “Jadilah sarjana yang merawat ekologis, serta jadilah sarjana yang pulang untuk mengabdi dan membangun daerah Kalimantan Barat,” katanya.
Wisuda kali ini sekaligus menjadi akhir masa jabatan Purwanto sebagai Rektor UPB Pontianak. Setelah sambutan rektor, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan sejumlah dosen UPB yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan sambutan sekaligus orasi ilmiah. Krisantus meminta para sarjana ikut meningkatkan literasi digital di lingkungan masing-masing.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak semakin cepat. Kondisi tersebut membawa manfaat, tetapi juga dapat menjadi persoalan jika teknologi digunakan tanpa pertimbangan.
“Paham-paham radikalisme, provokasi semua ada di sini. Berbahaya teknologi kalau tidak digunakan secara bijak. Namun jika digunakan secara bijak dan produktif maka akan sangat bermanfaat bagi kita,” ujarnya.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si.
Krisantus juga mengingatkan bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan membangun relasi. Ia meminta para lulusan berkiprah melalui berbagai profesi, menjaga nama baik almamater, serta berkontribusi terhadap pembangunan Kalimantan Barat.
Dalam kesempatan tersebut, Krisantus juga menyinggung rekam jejak alumni UPB yang pernah menduduki posisi penting di tingkat nasional. “Ketua Mahkamah Konstitusi, satu-satunya lulusan universitas di Kalimantan Barat yang lulusannya pernah menjadi ketua Mahkamah Konstitusi,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam orasi ilmiahnya, Krisantus turut menyoroti kondisi ekonomi Kalimantan Barat.
Dirinya mengatakan geliat pertumbuhan ekonomi daerah terlihat, antara lain, dari tingginya penggunaan jasa transportasi udara dengan rute domestik maupun internasional. Namun, menurut dia, pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Krisantus mempertanyakan pengelolaan kekayaan sumber daya alam Kalimantan Barat yang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. “Mengapa Kalimantan Barat kaya raya tapi rakyatnya masih miskin, PAD-nya masih kecil, bocornya di mana?” katanya.
Ia menyebut Kalimantan Barat memiliki berbagai sumber daya alam, seperti emas, batu bara, uranium, pasir kuarsa, silika, dan bauksit. Persoalannya, kata Krisantus, adalah siapa yang memperoleh manfaat dari kekayaan alam tersebut.
“Mari kita jaga alam kita, kita bersihkan mafia-mafia yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, kita cabut kutu-kutu yang ada di kepala Provinsi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Ia mengatakan pengelolaan sumber daya alam harus diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Karena itu, Krisantus mendorong kalangan intelektual, termasuk para lulusan UPB, untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan daerah.
Pesan tersebut menjadi bagian dari rangkaian wisuda 746 lulusan UPB. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka tidak hanya dituntut membawa gelar akademik, tetapi juga diharapkan mampu membawa pengetahuan untuk menjawab persoalan pembangunan Kalimantan Barat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan. (deL)
- Penulis: Sinar Sintang

Saat ini belum ada komentar