Gandeng Pelajar dan Pemuda di Sambas, Workshop KAUNISSAS Serukan Deklarasi Tolak Hoaks dan Intoleransi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 51 menit yang lalu
- print Cetak

KAUNISSAS menggelar workshop interaktif di Hotel Pantura Jaya Sambas untuk membekali pelajar wawasan kebangsaan serta menangkal paham radikalisme dan degradasi moral. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Keluarga Alumni Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (KAUNISSAS) menggelar kegiatan workshop interaktif pada Rabu (28/10/2026) siang.
Kegiatan pembinaan generasi muda tersebut dipusatkan di Aula Hotel Pantura Jaya, Kabupaten Sambas.
Workshop ini mengusung tema “Mewujudkan Pelajar Berkarakter, Cerdas Digital, dan Berwawasan Kebangsaan Guna Mencegah Intoleransi, Ekstremisme, dan Radikalisme”.
Pelaksanaan agenda tersebut melibatkan partisipasi aktif para pelajar dari jenjang SMP dan SMA sederajat dari berbagai satuan pendidikan di Sambas.
Selain pelajar, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa perwakilan sejumlah perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, serta tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.
Panitia penyelenggara menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dari beragam latar belakang untuk membedah berbagai isu strategis kepemudaan.
Materi yang dibahas mencakup topik pembangunan karakter, integritas, dan kepemimpinan pelajar, serta kecakapan cerdas bermedsos dan kritis melawan hoaks.
Narasumber turut membekali peserta mengenai materi penguatan wawasan kebangsaan, nilai-nilai toleransi, serta langkah pencegahan intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme.
Ketua Umum KAUNISSAS, Zikriadi, menyoroti kekhawatiran para alumni terhadap penurunan kualitas moral dan etika generasi muda saat ini.
“Kondisi sekarang banyak degradasi moral, tentunya akhlak ataupun pergaulan di lingkungan para pelajar dan para pemuda, sehingga teman-teman dari alumni berinisiatif berpikir yang ingin mengadakan acara ini,” terang Zikriadi.
Ia menilai pembekalan mengenai bahaya radikalisme menjadi sangat mendesak seiring masifnya arus pembelajaran mandiri di ruang siber.
“Kalau menurut pandangan kami tentang radikalisme ini sangat penting, terutama para pelajar ataupun pemuda, salah satu bisa masyarakat juga. Sekarang kan banyak belajar di media digital, nah hari ini memang kita mendorong menuntut ilmu harus berguru,” tambahnya.
Zikriadi mencontohkan berbagai fenomena perselisihan akibat perbedaan pandangan di ruang publik yang mengarah pada bibit-bibit ekstremisme.
“Artinya ini menjadi kita melihat ada kasus di masyarakat, misal salah satu dari media, dari masyarakat, entah itu aliran sesat, perbedaan dalam pandangan agama bertikai, berkelahi, itu kan sudah masuk ke ekstremisme. Dan mungkin salah satu adalah salah satu tokoh ataupun menjadi panutan sudah bisa menyesat-nyesatkan orang, mungkin itu salah satu radikalisme dampaknya itu,” tuturnya.
Ia juga mengaitkan perilaku ekstremisme pemuda di jalanan, seperti maraknya aksi balapan liar yang kerap memicu perkelahian massal.
“Nah hari ini ekstremisme ini di pemuda khususnya kita banyak melihat balap-balap liar, tapi balap-balap liar maksud kita itu bukan pada tempatnya. Nah sehingga disitulah muncul emosi-emosi anak, sering tawuran,” lanjutnya.
Zikriadi berharap keterwakilan peserta dari berbagai kecamatan mampu menularkan pencerahan ke lingkungan asal mereka sekaligus memperkenalkan eksistensi kampus ke masyarakat.
“Hari ini peserta yang kita undang itu mudah-mudahan ya dari absen kami mewakililah perkecamatan agar mungkin memberikan dampak sedikit untuk pencerahan bagi masyarakat seperti itu, sekaligus ini menjadi, terutama selain dari kontribusi masyarakat, sekaligus ini menjadi ajang juga promosi dari kampus yang kami cintai kepada masyarakat bahwa,” jelasnya.
Zikriadi turut menambahkan bahwa maraknya aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah serta minimnya pengawasan orang tua dalam aktivitas digital anak menjadi latar belakang penting digelarnya agenda ini.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Asrul, memaparkan secara rinci komposisi peserta dan pemateri yang dihadirkan dalam forum tersebut.
“Dari peserta kami mengundang dari siswa SMP, kemudian siswa SMA, kemudian ada juga beberapa perwakilan dari kepala sekolah, kemudian ada juga dewan guru, kemudian ada juga dari komite sekolah yang tentu ini kami undang untuk bisa berpartisipasi dalam kegiatan hari ini,” ujar Asrul.
Ia menyebut narasumber dipilih dari beragam latar belakang untuk memberikan pemahaman menyeluruh bagi para peserta.
“Untuk narasumber kami ambil dari pertama akademisi, kemudian juga praktisi, kemudian juga narasumber yang aktif dalam organisasi, sehingga mereka nanti bisa menjelaskan terkait dengan ekstremisme, radikalisme, kemudian intoleransi,” tuturnya.
Asrul berharap materi yang diperoleh dapat disebarluaskan oleh peserta di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal masing-masing.
“Supaya peserta ini bisa paham dan bisa mengerti tentang bagaimana cara mencegah hal-hal tersebut, sehingga ini kemudian menjadi goal kami ketika mereka pulang nanti mereka bisa paham dan bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat dan kemudian juga bisa sharing kepada teman-teman yang lain, sehingga hal-hal seperti yang saya sampaikan tadi tidak mudah tersebar baik itu di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat,” pungkasnya.
Di sela-sela kegiatan, seluruh peserta bersama-sama membacakan ikrar deklarasi bersama untuk menjunjung tinggi kejujuran, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Para pelajar dan pemuda tersebut menyatakan sikap tegas untuk menolak hoaks, menangkal ujaran kebencian, serta setia menjaga nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dari ancaman radikalisme.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar