Jajal Mobil Listrik Buatan SMKN 1 Sintang, Gubernur Ria Norsan Dorong Kolaborasi dengan Industri
- account_circle Adp/Tim
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- print Cetak

Gubernur Ria Norsan apresiasi mobil listrik karya siswa SMKN 1 Sintang. Ia mendorong kolaborasi industri dan strategi jemput bola untuk tingkatkan IPM Kalbar. (Foto: Adp.)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SinarSintang.Com — Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi luar biasa yang ditunjukkan oleh siswa SMKN 1 Sintang. Para siswa di sekolah kejuruan ini berhasil merakit unit mobil listrik secara mandiri sebagai wujud penguasaan teknologi ramah lingkungan.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur usai menjajal performa kendaraan bertenaga setrum itu dalam kunjungan kerjanya ke SMKN 1 Sintang pada Senin, 23 Februari 2026.
“Terima kasih, anak-anak kita sudah bisa merakit mobil listrik sendiri. Tadi sudah saya coba langsung,” ujar Gubernur Ria Norsan dengan nada bangga.
Ia menilai capaian ini merupakan bukti konkret bahwa generasi muda di Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk bersaing di bidang teknologi dan otomotif nasional. Gubernur berharap adanya kolaborasi nyata antara pihak sekolah dengan perusahaan-perusahaan swasta di Kabupaten Sintang untuk mendukung pengembangan karya ini.
“Harapannya dapat diproduksi dan dimanfaatkan lebih luas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui inovasi lokal,” tambahnya.
Di samping menyoroti prestasi teknologi, Gubernur juga memanfaatkan momen tersebut untuk membahas tantangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Barat. Saat ini, IPM Kalbar tercatat berada di angka 72,09 dan menduduki peringkat kelima di Pulau Kalimantan.
Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah tingginya persentase warga usia produktif yang belum menamatkan jenjang SMA, di mana sekitar 25 persen dari mereka sudah terjun ke dunia kerja.
Guna mengatasi hal tersebut, Gubernur mendorong sekolah-sekolah, khususnya SMK, untuk menerapkan strategi “jemput bola”. Ia meminta tenaga pendidik membangun sinergi dengan dunia usaha dan industri agar para pekerja bisa tetap mengenyam pendidikan di lokasi kerja masing-masing.
“Sekolah yang datang ke perusahaan untuk mengajar mereka. Itu upaya kita meningkatkan IPM. Mengingat sulitnya pekerja kembali ke bangku sekolah formal, pendampingan ini penting agar mereka memperoleh ijazah penyetaraan (SD, SMP, maupun SMA),” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kualifikasi pendidikan yang diakui secara administratif demi masa depan yang lebih baik.
- Penulis: Adp/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar